Day 12 - Tantangan Komunikasi Produktif

by - September 17, 2018



Jam 11 lebih saya menggendong si bungsu naik ke mobil dan melaju ke sekolah kakaknya. Sampai di TK saya menepikan kendaraan agar mudah membawa Naila naik ke mobil. Tampak dari mobil saya melihat si kakak lagi asyik bermain ayunan dengan temannya.
Ketika mobil sudah terparkir di depan gerbang sekolah, salah satu guru yang masih muda menghampiri Naila dan kemudian mengajaknya ke mobil. Saya pun turun dari mobil untuk menjemput anak kedua ini lalu membawanya masuk ke mobil.
“Naila tadi mama liat senyum-senyum waktu di sekolah tadi.. senang ki hari ini ya nak?” tanya saya membuka percakapan saat mobil mulai berjalan.
“Hmm, tadi ma di sekolah kita makan sayuran.. kita semua bantu bu guru masak.. saya pakai mi itu kain untuk di badan yang pernah mama belikan,” ia bercerita dengan antusiasnya. Kain untuk di badan yang dimaksud adalah celemek. Memang, saat pertama kali masuk sekolah, setiap murid diwajibkan mempunyai celemek untuk dipakai saat cooking class dan saat bermain cat warna. Sepertinya hari ini ada cooking class di sekolah tersebut.
Di hari ke-12 tantangan Komunikasi produktif saya coba mempraktekkan metode mengganti interogasi dengan pernyataan observasi. Sebelum mengenal komunikasi produktif, disaat menjemput anak saya selalu menggunakan kalimat interogasi. Seperti “Bagaimana tadi di sekolah?” atau “Apa kita bikin di sekolah tadi nak?” dan sebagai variasi saya juga kadang bertanya “Bekal makanannya dihabiskan?” atau “Tadi main apaki di sekolah sama bu guru,”
Jadi sekarang kalau bertanya ke anak, tipe pertanyaannya adalah hasil dari observasi  bahasa tubuh anak atau dari raut wajah mereka. Karena masih terus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif ke anak. 
Kalau menurut ibu Elly Risman,Psi. ada 12 gaya komunikasi yang populer dilakukan orang tua, padahal sebenarnya berdampak tidak baik bagi anak, dan bagi relasi orang tua dengan anak. Keduabelas komunikasi tersebut disebut juga komunikasi Parentogenik, seperti : Memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, memberi cap, mengancam, menasehati, membohongi,, menghibur (maksudnya saat anak mengalami kegagalan, kita menghiburnya karena tidak tega. Padahal setiap anak perlu diajari memaknai kegagalan sehingga nantinya menjadi pribadi yang yangguh), mengeritik, menyindir, menganalisa (maksudnya dalam hal ini adalah meganalisa kejadian).


#hari12

#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

You May Also Like

0 komentar