Lembah Hijau Camp di Malino

by - November 03, 2017


Biasanya kalau mendengar kata Malino, yang terlintas dipikiran adalah pepohonan pinus yang menjulang tinggi. Ya, memang salah satu ciri khas dari Malino ini adalah pohon pinusnya yang sangat indah. Namun weekend kemarin 28 Oktober 2017 tujuan kami mengajak anak-anak kembali ke Malino bukan untuk mengunjungi kebun pinus seperti biasanya. Tapi untuk memenuhi rasa penasaran dengan tempat wisata baru yang ada di sana. Nama tempatnya adalah Lembah Hijau Camp. Seperti nama tempatnya, kami bermaksud mengajak anak-anak untuk camping di lembah hijau ini.

Bagi warga Makassar dan sekitarnya tentu sudah kenal dengan Malino. Bahkan mungkin sudah beberapa kali berkunjung. Jadi Malino ini adalah kelurahan yang terletak di kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dana merupakan salah satu objek wisata alam yang indah.

Kami berangkat dari Makassar sekitar pukul 07.30 wita dan sampai di Malino tepat jam 09.40 wita. Biasanya kalau perjalanan lancar bisa ditempuh dengan 2 jam saja. Namun karena adanya perbaikan jalan sehingga perjalanan sedikit terganggu.



Tiba di Malino langsung saja kami menuju ke tempat tujuan, yang letaknya berada di jalan Pate’ne, tinggimoncong. Akses menuju ke tempat ini terbilang cukup sulit menurut saya, karena jalanan yang menanjak dan belum beraspal. Apalagi ditambah jalan turun menuju gerbang Lembah Hijau Camp yang sedikit curam.

Begitu tiba, kami langsung ditemani oleh petugasnya untuk memilih tenda yang akan digunakan. Tarif untuk satu tenda Rp. 500.000/malam yang bisa muat 4 orang dewasa. Dalam tenda ada empat buah kasur ukuran personal dan empat buah sleeping bag. Sedangkan untuk resort Rp. 800.000/malam. Harga tersebut sudah termasuk tiket masuk dan sarapan. Karena kami datang berlima, 2 orang dewasa dan 3 anak-anak, maka kami memilih tenda yang umum saja. Bagi yang tidak menginap di tenda, tiket masuk ke sini cukup terjangkau, yaitu Rp. 15.000/orang.



Dalam area Lembah Hijau Camp ini ada beragam fasilitas yang disediakan. Ada ayunan untuk anak-anak bisa bermain, ada dapur umum bagi yang mau masak kapan saja, tempat barbeque, musholla, toilet, wahana air sungai yang benar-benar sejuk. Nah, wahana kekinian yang paling banyak dikunjungi adalah sky bike atau sepeda udara. Untuk wilayah Sulawesi di sini satu-satunya tempat untuk ber sky bike untuk saat ini. Maka tidak heran kalau banyak anak muda jaman now yang datang ke sini. Dari mulai tiba di tempat ini hingga sore hari, cukup ramai antrian yang pengin coba sepeda udara untuk berselfie ria. Dan khusus untuk wahana ini dikenakan tiket Rp. 30.000/orang.

Za

Sore hari kami mengajak anak-anak mandi sekaligus bermain air di sungainya. Letaknya sekitar 20 meter ke bawah dari area tenda kemah. Untuk menuju ke sungai kita harus menuruni anak tangga yang lumayan banyak. Namun ketika sudah sampai di sungainya, rasa capek bakalan hilang.. Baru akan terasa lagi saat akan kembali dari sungai. Ya, kita mesti menaiki kembali anak tangga tadi. Nah, disini nih yang paling banyak mengeluh kecapekan. Pasalnya naik tangga sambil mendaki sih..

Semakin sore dan memasuki malam hari pastinya sudah siap dengan jaket dan baju hangat karena suasana sudah terasa dingin. Jadi selepas maghrib kami lebih memilih masuk ke dalam tenda biar lebih hangat. Baru keluar saat waktu shalat Isya dan makan malam. Oya, karena di sini makan malam tidak termasuk dalam fasilitas, jadi untuk makan malamnya kami titip kepada petugas untuk dibeliin makanan.  Angin malam yang agak kencang membuat kami merasa enggan untuk keluar lagi dari area Lembah Hijau ini agak repot karena selain jalanan sekitarnya yang cukup terjal, 

Di malam hari suasana camping semakin terasa. Tidur sambil mendengarkan suara jangkrik dan cuaca yang benar-benar dingin. Untungnya walau merasa kedinginan, anak-anak tetap menikmati suasana kemah. Si bungsu Fei yang masih berusia setahun pun gak rewel walau sudah pakai baju berlapis ditambah jaket dan kaos kaki.
Jadi tak perlu ragu jika ingin mengajak keluarga berkemah diwaktu weekend.

You May Also Like

1 komentar

  1. Mbak Risma dari makassar ya? aku sudah pernah ke Malino. Adem. Sampai gak bsa mandi. Akhir tahun ini akan ke Makassar lagi. Inshaallah.

    BalasHapus