Resume Tanya Jawab Materi 5 Matrikulasi IIP Batch#3 Sulawesi 2

by - Maret 07, 2017

Belajar Bagaimana Caranya Belajar

1.      Pertanyaan dari Bunda Eflin Nur Selvia
Assalamualaikum.. Pada materi "Belajar Bagaimana Caranya Belajar" ini saya mau bertanya bagaimana cara mengatasi anak yang pemalu pada saat berada diluar rumah? Anak saya umur 3 tahun Alhamdulillah kalau dirumah dia semangat belajarnya tinggi, kalau ada hal yg baru dia tahu, rasa ingin tahunya membuat dia langsung bertanya sampai dapat jawaban yg memuaskan, kalau dia rasa belum jelas jawaban yg diberikan msh lanjut bertanya lg sampai sedetail-detailnya. Tapi ketika berada di luar rumah kemudian ada org lain yg mengajak bercerita atau menanyakan suatu hal dia bawaannya diammm melulu, gak berani menjawab padahal kalau dirumah dia sdh paham sekali. Mohon pencerahannya. Terima kasih
Jawaban :
MasyaAllah, bagi saya tidak ada masalah dengan anak Bunda. Biarkan saja demikian dulu, Bunda. Jangan jatuhkan dengan kata-kata yang mengatakan dia pemalu, atau gak pede.
Mungkin dia belum.nyaman untuk menyampaikan pendapatnya, atau ada kejadian yg dulu membuat dia malu. Bunda sampaikan nanti dirumah, jika ada yg tanya baiknya dijawab ya sayang, kita baiknya kan menghargai yg sdh bertanya, menurut kamu sayang gimana? Bisa jadi lanjut diskusi dan mungkin dia menyampaikan alasannya, dan InsyaAllah ketemu solusi.
Saya teringat suatu peristiwa, anak 1 saya demikian, sempat berani, tapi saya membuatnya dia jadi malu, suka takut salah, gak pede, setelah saya tau (saya cari sebab sendiri, nemu) saya Minta maaf ke kakak, alhamdulillah sejak itu dia berani lagi.
Sedekah paling utama kan maaf ya, maka janganlah malu mengakui kesalahan.

2.      Pertanyaan dari Bunda Zulfa Syamsul
Assalamualaykum.. Bunda, terkait materi saya ingin bertanya. Anak pertama kami Najya (2y4m) telah menunjukkan ekspresi emosi tapi masih keliru. Misal jengkel dengan melempar barang, marah dengan berteriak, dan sebagainya.
Nah, jika saya ingin mengajarkan Kecakapan mengelola emosi dengan tepat berarti mesti menjadi teladan kan? Sementara justru di situ juga kekurangan saya. Kira-kira bagaimana solusi untuk masalah ini? Jika ada buku yang rekomended, buku apa itu? Syukran.
Jawaban :
Marah itu boleh. Yang kemudian harus dikendalikan adalah bagaimana cara yang dipilih seseorang untuk menyalurkan kemarahannya.
Disini, Sepertinya bunda sudah mengenal sekali masalah dan solusinya. Iya bunda, jadi teladan memang cara paling jitu, karena anak-anak ga pernah salah dalam meniru kelakuan kita. #tantangan.
Kenali saat-saat amarah itu muncul Bunda, baik di anak maupun di Bunda.
Jika anak demikian, Jangan terpancing, Bunda sabar, jika sabàr terasa sulit, maka Bunda diam dan tidak terpancing untuk marah. Ketika anak melihat bundanya tidak marah, tentunya dia akan contoh, dan berpikir kalau dirinyapun berlaku seperti Bundanya.
Sharing:
Anak saya juga dulu begitu bunda, namun terjadi ketika usia 3 tahunan, jadi saya biarkan tapi tetap awasi, dan kalau sdh tenang saya bertanya tentang perasaannya, #mendengarkan
Kemudian sampaikan “Nak, kalau marah, cerita! Kalau buang-buang barang, marah, teriak, masalahnya tidak selesai kan?” Kemudian, saya sampaikan, dirumah ini tidak akan dilayani, didengar jika bicaranya merengek, teriak, nangis. Alhamdulillah sampai sekarang cara ini ampuh.
Buku-bukunya banyak Bunda :
Marah yang bijak
Cerdas mengelola emosi
Manajemen Marah.
Untuk anak yg sedikit aktif cerita, Toto Chan juga bisa jadi inspirasi.

3.      Pertanyaan dari Bunda Nina Rivai
Pada penjelasan semangat belajar yang berbeda, ada 4 cara mengelolah kemampuan berpikir anak, salah satunya adalah Presentasi yaitu mengungkapan apa yang telah didapatkan/dipelajari.
Pertanyaan saya : Bagaimana cara menstimulasi anak untuk mempresentasikan, bercerita, atau recalling tentang apa yang diperolehnya, dialaminya dan dirasakannya?
Saya lebih sering menstimulasi dengan bertanya, tapi mungkin cara saya yang keliru menyebabkan anak saya cenderung bosan dan enggan mempresentasikan atau bercerita kembali tentang apa yang dirasakan dan diperolehnya. Mohon bimbingannya, bunda Tim Fasil. Terima kasih
Jawaban :
Iya seperti itu bunda, Rajin menanyakan tentang aktivitas mereka bunda. Ketika sedih, kita bisa tanya, kalau sebelumnya dia nangis, tunggu sampai dia berhenti nangis terus ditanya. Kalau memang sudah sering bunda lakukan, apa anak-anak masih menjawab seperti awal-awal bunda tanyakan atau bagaimana? Atau bunda kan bisa mendongengkan, nanti buat jadwal untuk bergantian, adek diminta menceritakan kembali, keluarga lain menyimak. (Kalau perlu, sediakan tempat/panggungnya) Hal ini juga dapat meningkatkan kepedean anak-anak di depan umum.
Atau main sandiwara-sandiwara, sekalian main peran, Bunda jadi anak, anak jadi Bunda, nanti minta diceritakan dongeng, atau apa saja yang Bunda dapat kreasikan pertanyaannya, ini seru bagi saya, pernah buat begini ke anak, duh gaya nasehati juga cara bercerita copy paste banget dengan gayaku.
Iya Bunda, kalau saya karena anak2 sudah agak besar, diubah lagi jadi seperti kultum, atau family forum. Bukan panggung beneran kalau saya, bisa Naik dibangku kayu atau di dinding dihiasi bunda, buat penanda aja.

4.      Pertanyaan dari Bunda Aniek Hasan
Bunda Henny Haerany, kalau anak saya usianya baru 10 bulan, tapi suka SKSD (Sok Kenl Sok Dekat), ngajak semua orang main, nempel, minta gendong sama orang, itu apakah termasuk fitrah yg harus dijaga? Baik atau tidak?
Jawaban :
Hehe lucu. Bunda, kalau di lingkungan keluarga, tidak apa-apa ya. Jangan langsung disampaikan Jangan/tidak boleh. Untung kalau anak ngerti, kalau tidak, energi kita rugi. Sampaikan lewat dongeng kalau sudah paham tentang cerita, pelan-pelan, berproses Bunda, jika Usia bertambah dan masih begitu, sampaikan lagi dan lagi. #kalausayademikianbunda

5.      Pertanyaan dari Bunda Rustina Ummu Kamila
Anak 1 saya juga begitu bunda. Umur 4 tahun, kalau ikut tarbiyah di Masjid yang 1 area dengan TK dan SD, dia suka ikut-ikut gerombolan anak-anak sekolah. Padahal gak kenal, tapi dia merasa berteman. Saya yang lihat malah kasihan, semua-semua dideketin sok kenal padahal gerombolan anak-anak sekolah itu nyuekin karena sedang asyik sendiri dengan teman-teman mereka. Bagaimana mengatasi itu ya Bund Henny?
Jawaban :
Panggil dan tanya ke anak, kakak mau bermain dengan mereka? Kalau dia jawab iya, Lanjutkan! Kakak kalau mau bermain dengan mereka, kakak kenalan dulu dong, dan seterusnya (misalnya, Bunda bisa ajarkan SOP perkenalan ke anak yang bunda pahami).
Atau biar saja dia mencoba dengan caranya, kalau dicueki nanti evaluasi, diskusi bareng, gimana ya baiknya (kasih solusi). #demikandarisaya bunda. Ajarkan juga kalau ada orang baik dan ada orang jahat.

6.      Pertanyaan dari Bunda Ita Julita II
Anak saya belajar membaca usia 6 tahun hanya saya ajari 2 minggu, sambil bermain dan Alhamdulillah lancar, bunda Heny saya juga mau training jaritmatika bagaimana caranya?
Jawaban :
Ibu-ibu muda yaah. Semangat, saya dulu gak ada IIP, tapi dulu sempat ikut training jarimatika punya bu Septi, itupun ikut karena saya kesusahan antar jemput anak Les. Jadilah saya ikut training. Disitu juga saya banyak dapat ilmu, akhirnya ajar membaca pun semua saya, usia 4 tahun sudah bisa baca dan jarimatika. Kalau sebelumnya alhamdulillah Allah menunjukkan jalan, karena saya ingin belajar. Akhirnya belajar dari buku (dulu sosmed masih kurang) tapi ketika kita punya niat, InsyaAllah Allah Bantu.
Kalau kondisi sekarang, duuh banyak sekali ya, sisa kita mau belajar/tidak.
Saya pun pelajari buku selain buku bu Septi, namun saya lebih nyaman dengan cara bu Septi. Anak-anak saya cocok dengan buku bu Septi, abaca baca & jarimatika, alhamdulillah semua anak saya baca usia 4 tahun, dan suka hitung-hitung karena pake jarimatika.

7.      Pertanyaan dari Bunda Siti Khodijah dan Bunda Maizarah Purnamaningsih
Perihal contoh meratakan lembah:
Anak kurang pandai matematika, diatasi dengan ditambah porsi belajar matematikanya, keliru ya?
Ini tanggapan suami saya Bund, "Tapi sekarang kan jamannya anak dituntut untuk multitasking? Yang banyak dicari adalah orang yang bisa berbagai macam keahlian"
Mohon bantu saya untuk menjawab tanggapan suami tersebut!
Jawaban :
Begini Bunda, perihal meratakan lembah.
Anak kita kurang matematika, tapi kita gak amati kalau dia bagus di bahasa, kareba matematika jadi standard kecerdasan sebagian orang (saya tidak) maka orang tua leskan anak-anak. Namun karena dia ga bakat disitu akhirnya dia hanya meratakan lembah, bukan membuat bukit. Anak jadi bisa math tapi ga bias ahli di situ, karena yang jago math sudah buat bukit.
Jadi, kalau anak-anak lemah di math, leskan dia 1 kali sepekan saja, namun di les bahasa/menggambar yang dia suka (misal) dileskan 2-3 kali sepekan, pasti anak-anak senang, dan yakinlah nilai math-nya juga naik.
Bayangkan, sudah ga suka math, pulang rumah disuruh les itu lagi. Mumet jadinya. Untuk kalau bisa diratakan lembah, kalau lobang terus?

8.      Pertanyaan dari Bunda Rustina Ummu Kamila
Berarti tetap berusaha dipadamkan math-nya ya bund bukan ditiadakan? Booster semangat belajarnya dengan menambah jam belajar ilmu yang disukai?
Jawaban :
Iya Bunda Tina, disini peran orangtua besar, mengamati bakat anak, perasaan anak, bicarakan. Kalau perasaan anak happy, saya yakin pelajaran apa saja dia nikmati, pahamkan untuk naik kelas kita harus lewati tangga math, IPA, bahasa, dan lain-lain.

9.      Pertanyaan dari Bunda Ita Julita II
Saya sedikit keluar ya, mau tanya sama bunda Heny kalau mau ikut program Bu Septi lebih spesifik lagi misalnya dengan training (tanpa meninggalkan anak), apa ada bunda?
Jawaban :
Sekarang Bunda sudah mulai kan, Matrikulasi, tahapan selanjutnya Bunda sayang dan seterusnya, kalau untuk training seperti abaca baca, jarimatika saya kurang tau, apa masih ada/tidak (maksudnya sudah di-handle orang-orang kepercayaan bu Septi) Mungkin karena bu Septi fokus ke IIP dulu dan program jelita-nya. Sepengetahuan saya Bunda, nanti saya carikan informasinya.

10.  Pertanyaan dari Bunda Rati Rahmawati
Saya juga pernah baca bund, sebagian orangtua memilih homeschooling buat anaknya karena lebih mudah menemukan minat dan bakat anak dengan homeschooling. Setelah itu tinggal diasah dibagian tersebut, jadi anak benar-benar ahli di bidang tersebut tidak hanya sekedar ranking pertama di sekolah, tinggi semua nilai mata pelajaran tapi setelah itu lupa.
Jawaban :
Schooling dan home schooling hanya kendaraan saja Bunda, dimana anak-anak kita nyaman belajar, disitulah kita tempatkan, karena mereka yang jalani.
Bu Septi selalu menyuruh anaknya memilih sekolah di A, B, C atau belajar sama bapak ibu, dan keputusan anak diikuti. Keren yaah. Kalau anak-anak saya mau schooling, biar bisa belajar sama ummi juga bu guru.
Jadi anak bu Septi pernah sekolah umum, trus balik Home Scholling lagi.
Jadi pilihannya dikembalikan ke anak, tetap anak diberi pilihan. Hal ini guna menghargai pendapat anak dan anak merasa memiliki suara dalam keluarga, cara seperti ini dapat meningkatkan rasa percaya diri pada anak.

11.  Pertanyaan dari Bunda Rustina Ummu Kamila
Ada artikel yang saya baca, bahwa jangan terlalu cepat mengajari anak membaca dan berhitung. Umur 6 tahun idealnya baru diajari calistung. Bagaimana pendapat bunda Henny berdasarkan pengalaman bunda? Apakah dengan bisa membaca di usia 4 tahun anak terbebani?
Jawaban :
Tidak terbebani. Karena mereka yang mau sendiri Bunda, bukan saya yang paksa atau suguhkan.
Anak pertama saya suka dongeng kan, ketika Usia 3 tahun saya lahiran dan sedang lanjut kuliah, otomatis waktu ke dia berkurang, akhirnya dia bilang ummi ajar baca, saya bilang nanti, dia mau. Saya ajarlah, jodoh juga saya kok milih buku bu Septi jadi pegangan, karena saya lihat profilnya ibu ini terbukti ajar anaknya baca. Alhamdulillah lancar, gak ada paksaan, dan cepat karena anak-anak yang mau.
Anak ke-2 juga begitu, dan lebih cepat, hanya 2 bulan, karena dia suka lihat saya dan kakaknya membaca, jadi pengen juga baca sendiri, daripada tunggu diceritakan. Dan anak berikutnya, anak saya 3 tahun lebih baru bisa ngomong maka ketika dia sodorkan buku abacabaca saya bilang jangan dulu, namun dia tetap mau (dia dapat buku itu di rak-rak buku cerita) alhamdulillah anak speak delay yang dulu dikatakan gara-gara dia 2x digunting selaput lidahnya, baca juga 4 tahun daaann tanpa paksaan ya bunda-bunda. #jadiseperti nulis blog.

12.  Pertanyaan dari Bunda Rustina Ummu Kamila
Kalau usia 4 tahun, ditanya kk mau sekolah dimana? Saya kasih pilihan TK A, B, C atau belajar di rumah. Dia pilih belajar di rumah, tapi dia belum mengerti apa-apa yang dipelajari di TK. Baiknya saya turutin aja, atau saya uji cobakan sekolah di TK?
Jawaban :
Bunda yang lebih tahu anaknya. Misal, anak Bunda kurang berinteraksi dengan anak seusianya karena ga ada tetangga seusia anak, ya boleh Bunda kenalkan dengan TK umum kalau di sini kamu banyak teman, kalau anak tetap mau di rumah, ya lanjutkan Bunda.
Anak saya juga dulu saya sekolahkan TK, eh dia minta berhenti, dia kasih tahu guru TK nya kalau Ummi lebih bagus kalau bercerita, lebih pintar menggambar, dan lain-lain , walau rugi akhirnya anak dikeluarkan.
Jadi kalau bisa trial, cobakan Bunda, jangan seperti saya (dulu saya ga Tanya-tanya ke anak, jadi gitu deh, rugi).

13.  Pertanyaan dari Bunda Maryam Kamaruddin
Metode yang saya terapkan ke anak pertama dan anak kedua sama tapi kenapa yah, sikap anak kedua beda banget dengan kakaknya. Dia susah sekali menerima penjelasan dari saya. Kadang saya jadi bingung.
Jawaban :
Owh jelas Bunda, setiap anak unik, beda. Gaya belajar juga demikian, saya pahami sekali ini karena sudah alami. Ada anak yang anteng aja, ada anak yang belajar harus sambil gerak, lompat-lompat bahkan sambil berlari.
Kenali anak-anak Bunda, dan sesuaikan gaya belajar untuk mereka. Audio, visual dan lain-lain. Dan jangan membandingkan anak.
Bandingkan boleh tapi dengan diri sendiri, misal Kok ade sekarang begini, waktu ade usia segini ade sudah bisa kok kerjakan ini.

14.  Pertanyaan dari Bunda Siti Khodijah
Gaya belajar anak bisa dilihat dengan pengamatan orang tua saja atau bagaimana ya bunda? Dan paling dini bisa dilihat sejak kapan?
Jawaban :
Kalau saya secara alami saja Bunda, Allah memberi kita mata, telinga, hati untuk kita gunakan. Saya ga pernah tes-tes anak saya, kecuali syarat masuk SD, ada tesnya. Dan memang sama dengan pengamatan kami, paling ada beberapa penambahan saja. Bunda mau, anaknya bandingkan Bunda dgn temannya Bunda? Pasti kita juga gak mau kan? Sama kok anak dan kita punya hati,

Alhamdulillah Bunda, semua itu jalannya Allah, saya hanya berbagi pengalaman, intinya jika mau anak-anak baik, kita baik dulu lah, dan semua butuh ilmu (belajar) dan kuatkan dalam doa.

You May Also Like

0 komentar