Materi Hukum Perceraian Dari Grup Networking Online

by - Maret 05, 2017


Tiap Jumat malam di WhatsApp Grup (WAG) Networking Online selalu hadir pemateri dengan latar belakang yang berbeda. Pada Jum’at, 3 Maret 2017 kemarin, yang mengisi materinya adalah pak Rury Arief yang sehari-hari berprofesi sebagai advokat juga sebagai komisioner pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bekasi. Isi materinya adalah sebagai berikut :
Tentang Hukum Perceraian Dalam Islam
Dalam suatu pernikahan sebenarnya memiliki tujuan utama, yaitu terbentuknya keluarga yang SaMaRa, Sakinah-Mawadah-Wa Rohmah. Namun terkadang dalam perjalanannya sebuah pernikahan terdapat masalah-masalah antara suami dan istri yang tidak dapat terselesaikan ataupun terdapat kedzoliman yang bisa menyebabkan tidak terpenuhinya hak sebagaimana yang seharusnya
Dalam kondisi demikian, Islam memberikan solusi bagi pasangan yang tidak dapat menemukan kebahagiaan dalam rumah tangganya, yaitu lembaga perceraian. Namun harus diperhatikan bahwa cerai itu merupakan perbuatan yang halal tetapi perlu di ingat bahwa cerai itu sangatlah tidak di sukai atau bahkan mungkin dibenci oleh Allah swt
Dalam Fiqih cerai disebut Talak bila suami yang memberikan dan Khuluk bila istri yang menginginkan. Cerai atau Talak itu sendiri memiliki arti, bahwa putusnya hubungan antara suami dan istri dari hubungan pernikahan/perkawinan yang SAH dalam hukum agama serta hukum Negara.
Perlu di ingat pada point tidak disukai atau dibenci Artinya hal ini haruslah benar-benar kita hindari semampu dan sekuat diri kita masing-masing, baik itu suami ataupun istri.
Habiskan dulu alasan-alasan yang menguatkan bahwa bukan perpisahan sebagai jalan keluar atas masalah yang dihadapi. Kalau perlu ingatlah saat-saat PDKT dulu yg begitu romantis serta penuh gairah.
Perceraian sesungguhnya bukan hanya masalah dua pribadi, tetapi juga berakibat pada hal lain dan pribadi-pribadi lain. Berdampak ada keluarga besar, lingkungan, terutama terpenting adalah pada anak-anak (bagi mereka yg sdh memiliki keturunan)
Sangat dipastikan ada kekecewaan atau traumatis pada mereka, karena menghadapi atau melihat situasi yang tidak sesuai harapan mereka. Dan bisa dikatakan pada masalah perceraian, anaklah yang akan menjadi korban.
Perceraian nyata-nyata memiliki pengaruh buruk, oleh sebab itu harus diupayakan semampu mungkin untuk di hindari. Asal hukum cerai adalah makruh, tetapi bisa jadi wajib, haram dan bisa juga menjadi sunah. Tergantung situasi dan keadaan rumahtangga tersebut.
Ø  MAKRUH apabila suami ceraikan istri tanpa sebab dan alasan yang jelas
Ø  Menjadi WAJIB, disaat perceraian dilakukan karena pasangannya berahlaq buruk, keji tp ga mau tobat, atau bahkan murtad.. wajib cerai.
Ø  HARAM, Cerai bila istri dalam keadaan haid-nifas, atau saat kondisi suci tetapi telah berjimak dengan suami
Ø  MUBAH, Jika diperlukan, saat suami sudah gak bisa bersabar hidup dengan istri
Ø  SUNAH, Saat suami sdh merasa tidak mampu memberikan nafkah pada istri atau istri dianggap sudah tidak bisa menjaga martabat dirinya.
Seringkali banyak dari kita menyalah artikan lembaga Peradilan Agama, seakan-akan permasalahan yang masuk kedalamnya outputnya pasti cerai. Padahal tidak demikian, pengadilan agama adalah batu uji terakhir atas kesepakatan cinta antara suami istri.
Kalau berdua sudah tidak bisa selesai, kemudian keluarga besar atau teman tidak bisa membantu mendamaikan, anggaplah pengadilan agama sebagai teguran keras bagi pasangan yang sedang rebut. Banyak juga saat mereka bertemu di pengadilan, kesadaran mereka hadir kembali bahwa perceraian bukanlah yang mereka inginkan..
Semoga kita semua selalu terhindar dari masalah, selalu mendapat petunjuk serta penuh berkahNya... Aamiin

***

Resume Tanya Jawab
Pertanyaan pertama:
Assalamualaikum.. pak Rury.. Terimakasih mba Wani atas kesempatannyaa. Yang ingin saya tanyakan, Apabila seorang suami dzalim (KDRT, main dukun, tidak menafkahi) pantas untuk di gugat cerai? Atau harus berusaha dipertahankan dulu?
Lalu, setelah cerai bolehkah sebagai ibu menjauhkan atau menjaga jarak antara anak kepada ayah.. Karena ayahnya yg seperti itu dan track recordnya tidak baik bahkan sampai ada niat untuk merusak hidup anaknya..
Jawab :
Baik bu, kiranya semua dari kita sangat menginginkan kondisi yg ideal, tetapi bila tidak ya kita di syariatkan dulu untuk berupaya semampu kita dengan batasan yang kita sendiri tentukan adalah hak dari kita untuk menggugat cerai pasangan bila memang sudah dirasa memang perlu. Tetapi perlu diingat ada tanggungjawab dari kita untuk mempertahankannya. Silahkan gugat tetapi dalam konteks berusaha mengingatkan, menegur, sampat Allah berkata lain.
Walaupun sudah cerai, hubungan antara anak dan kedua ortu tidak boleh diputus, buat anak tetap hormat pada kedua ortunya. Tetapi liat kondisi juga bahwa masa depan anak-anak harus diselamatkan.
Tanggapan dari Novia :
Iyaa pak,  alhamdulillah.. Sudah cerai tante saya. Cuman yang jadi khawatir anaknya yang kalo kontekan sama bapaknya takut terbawa gimana-gimana.. Kemarin saja lagi ngaji di rumah saya dan suami dan niatnya mau ke pesantren, tiba-tiba rubah, ingin masuk SMA atas usulan ayahnya. Terimakasih pak atas masukannya. Semoga Allaah senantiasa berkahi rumah tangga kita semuaa..
Terakhir pak,  pola didik kepada anak yg brokenhome seperti ituu bagaiman?? Apa ada buku yg direkomendasikan dalam hal ini?

Pertanyaan Kedua :
Saya intan, 4 tahun yang lalu saya pernah mengalami perceraian tanpa alasan yang jelas. Suami jatuhkan talaq tepat 10 hari setelah melahirkan anak ke 2. Apa itu termasuk hukum makruh? Mohon penjelasannya untuk hukum tersebut. Terima kasih.
Jawaban :
Baik bu, perlu jelas dulu talaq seperti apa yang dimaksud, apakah lisan saja atau melalui proses pengadilan. Bila belum masuk pengadilan saya masih meragukan status talaq tersebut. Dan lagi sepertinya masih dalam kondisi nifas, bisa jadi masuk ke haram yaa..
Tanggapan dari Bu Intan :
Lisan.. sering diulang-ulang bahkan via SMS pun sering. Akhirnya saya minta dia gugat cerai di pengadilan dan sekarang sudah resmi cerai. Namun dari awal cerai sampai sekarang dia gak pernah nafkahi anak bahkan gak ada nengok. Apa harus saya meminta dia untuk menafkahi anak-anaknya?
Jawaban :
Memberi nafkah anak itu adalah kewajiban dari kedua ortunya sekalipun tanpa harus diminta, kalau ayahnya ga mikirin anaknya berarti apa yah kalau gitu.. Percaya saja bu bahwa setiap anak yg dilahirkan kedunia ini pasti memiliki rejeki sendiri dari Allah swt. Semangat...!
Tanggapan :
Iya pak, saya yakin 1000%, Allah ada bersama kami. Terima kasih pak Rury.

Pertanyaan ketiga :
Assalamualaikum Pak Rury.. Saya Yeni, saya ingin bertanya kalau istri kekeuh ingin mengajukan cerai dengan alasan nafkah lahir yang tidak diberikan oleh si suami dan sudah mendaftarkan gugatan cerainya ke pengadilan tapi si suami juga kekeuh tidak ingin bercerai, apakah bisa tetap terjadi perceraian Pak?
Jawaban :
Perceraian itu tidak perlu kesepakatan, karena cerai itu hak seseorang, jadi kalau ada istri gugat suami ya boleh saja krn tdk memerlukan persetujuan dari suaminya dan proses sidang di pengadilan akan terus berjalan sampai ada putusan hakim yang memeriksa.
Tanggapan :
Ini kakak saya yang mengalami, semenjak kakak saya bekerja dan punya penghasilan, seakan suami jadi mengandalkan penghasilan istri untuk keseluruhan kebutuhan rumah tangga, sedangkan uang suaminya ya di nikmati sendiri.
Alhamdulillah penjelasan pak Rury sangat jelas dan mau langsung saya sampaikan ke kakak saya. Terima kasih pak atas penjelasannya.

Pertanyaan keempat :
Kakak saya sudah ditalak oleh suaminya. Talak 2 menurut cerita kakak, hal ini dikarenakan si istri sering ikut arisan online sampe judi online yang berakibat hutang sampai ratusan juta. Cuma yang saya bingung walau sudah keluar kata cerai dari suami mereka tetap satu rumah dan tetap menjalankan tugas masing-masing. Kecuali untuk tidur sudah pisah kamar. Yang ingin saya tanya apakah sah cerai seperti itu? dan apa boleh jika sudah jatuh talak tapi masih tetap tinggal dalam satu rumah
Jawaban :
Talaq yang benar itu diucapkan suami di muka pengadilan dan itu sudah melalui rangkaian proses dalam menguji permasalahan yang terjadi antara mereka.
Tanggapan :
Apakah dilihat secara agama pun hal itu masih sah ya pak? Maksudnya ikatan perkawinannya.
Jawaban :
Sulit mengujinya dalam kondisi apa talak itu di ucapkan, marah kah? main-main kah? atau apa.. itulah makanya perlu diuji di pengadilan
Tanggapan :
Baik pak, terimakasih atas pencerahannya

Pertanyaan kelima :
Terima kasih atas kesempatan, mungkin pertanyaannya agak melenceng. Dan ini sering terjadi diantara teman saya.  Ketika suami istri terpisah karena salah satunya bekerja di LN (Luar Negeri), karena suatu hal terjadi  pihak istri mengajukan cerai dari LN.  Yang disitu ada pengacara yang membackup sehingga terjadi perceraian.  Yang mau saya tanyakan bagaimana hukumnya perceraian ini. Sedangkan suami merasa tidak melakukan hal yang menyimpang (masih dalam batas kewajaran). Sehingga suami tidak berdaya untuk mencegah terjadinya perceraian tersebut. Sedangkan anak pun yang merawat juga suaminya. Intinya apakah dibenarkan perceraian jarak jauh seperti itu?
Jawaban :
Dalam proses perceraian ada tata cara yang dianggap sah oleh negara dan agama, memang bisa seperti itu tetapi juga harus memenuhi syarat yang ditentukan oleh lembaga peradilan. Kalau ada gugatan dari istri, hak suami juga untuk menjawabnya di muka persidangan, buktikan bila gugatan yang diajukan tidak sesuai fakta kebenarannya. Tentunya dengan juga mengajukan bukti-bukti dan saksi, pengadilan tidak selalu mengabulkan gugatan apalagi hal yang terbukti tidak benar.
Tanggapan :
Ketika pihak suami mengetahui, dia berfikir kalaupun dipertahankan juga tidak baik akhirnya karena dari pihak istri tidak ada itikad baik.
Jawaban :
Pada akhirnya apapun itu adalah yang terbaik yang ditentukan Allah SWT.
Tanggapan : 
Baik terimakasih pak Rury Arief Rianto.  

Pertanyaan keenam :
Begini pak, kalau pernikahan di bawah umur misal si cewek baru berusia 16 tahun dan cowok 15 tahun. Nah, pernikahan itu dikarenakan kecelakaan. Pertanyaan saya, apakah bisa melanjutkan sekolah makipun sudah ikut sidang?
Jawaban :
Undang-undang perlindungan anak yang berlaku saat ini tidak memperkenankan adanya pernikahan dibawah umur, itu masuk ke ranah pidana. Tetapi karena keduanya masih anak-anak, ada sistem penanganan dengan diskresi atas kesepakatan bersama. Sedangkan sekolah juga merupakan hak anak, karena kita harus menjaga dan menjamin masa depan mereka.
Tanggapan :
Tapi sudah mengikuti sidang pak dan hasilnya kemarin sudah diperbolehkan nikah. Cuma gak bisa bikin KTP.  Trus kalau kayak gitu, gimana nasip anaknya itu pak? Kartu Keluarga mengikut siapa?
Jawaban :
Sebenarnya kalau segera saling memaafkan bisa saja tanpa perlu sidang, tetapi sudahlah itu pasti jalan yg terbaik bagi mereka. Kalo teknis seperti itu gak usah dibikin pusing, yang jelas pastikan mereka benar-benar saling sayang dan mencintai anaknya.

Pertanyaan ketujuh :
Makasih pak, saya Fika. Begini, adek sama adek ipar saya kalau bertengkar gampang banget mengucap kata cerai. Udah kaya makan bakso. Kalo gak adek saya yang minta cerai, suaminya yang ngomong talak. Tapi gak lama mereka mesra lagi. Itu hukumnya gimana pak? Trims
jawaban :
Ingatkan mereka bahwa ucapan itu bagian dari do'a. Juga seakan lagi latihan ngucap cerai. Nah, yang lebih dewasa, baik itu orangtua atau kakaknya mengingatkan agar ubah kebiasaan tersebut. Sedangkan ucap cerai yang benar itu kan harus dengan penuh kesadaran, tidak boleh juga dalam keadaan marah. Kalau ragu silahkan dihadapkan aja ke ortu/wali untuk ijab lagi, sekaligus sambil mengenang saat pertama nikah dulu...
Tanggapan :
Berarti masih nikah ya pak gak bener-bener hukum nya sudah cerai?
Jawaban :
Inshaa Allah mereka masih sah.. cuma lagi mepet-mepet pengen nyobain gimana rasanya pisah cerai..
Semoga kita semua terutama yanbg di grup wa ini selalu dalam keadaan penuh rasa syukur terhadap apa yang Allah berikan. Dengan demikian inshaa Allah hidup akan lebih tenang dan bisa lebih menikmati segala keberkahanNya...
Segala permasalahan pasti ada kunci penyelesaiannya. Tergantung pikiran kita sendiri.



You May Also Like

0 komentar