Materi 4 Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah

by - Februari 24, 2017



Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*
Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.
Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.
Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.
“ *Just DO It*”, 
_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.
Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_, bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.
Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu
PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH
Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.
d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.
Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara 
WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. 
Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition”
Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.
Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Sumber bacaan :
_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_
_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2017_

***

‌Resume Tanya Jawab 
Materi Matrikulasi IIP Batch#3 Meteri 4 "Mendidik dg Fitrah Berbasis Hati Nurani"

👉Pertanyaan bunda Sri Wahyuni:
1. Bagaimana membersihkan hati nurani atau bagaimana kriteria hati nurani yang sudah dianggap bersih suci?
2. Bagaimana membantu anak melihat dan menemukan misi hidupnya dan bagaimana memahami fitrah dari anak-anak kita?
Jawab:
Masya Allah pertanyaan bunda Sri, saya tekankan, jawaban disini bukan teoritis/ketentuan baku ya namun berdasarkan sharing ilmu dan pengalaman yang telah saya pelajari.
1. Mendekat diri kepada Allah, Membersihkan hati dengan tazkiyatun nafs. 
Kenali apa yang membuat hati bunda demikian, dan mulai muhasabah, perbaiki apa yang dirasakan masih kurang. Ittakillah. Doa.
Kriteria hati nurani bersih menurut pendapat sederhana saya bunda, ketika segalanya kita serahkan hanya kepada Allah. Nafsu dapat kita tekan, sehingga kita hanya melakukan apa yang kita butuhkan bukan kita inginkan. Ontrack.
2. Kenalkan kepada mereka apa sesungguhnya maksud Allah menciptakan manusia. Sehingga track mereka jelas, bahwa segalanya harus ditujukan hanya kepada Allah.
Untuk memahami fitrah anak, bunda harus memahami setiap anak yang lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengetahui fitrah anak, seperti fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah perkembangan mereka
Dan yang tahu betul anak-anak kita, adalah orangtuanya. Sehingga ayah bunda juga perlu mengetahui fitrahnya.

‌👉Pertanyaan bunda Nunung:
Bagaimana contoh program very limited spesial edition untuk anak 14bulan bun? Saya kadang masih bingung mau melakukan apa jika bersama anak, apalagi saya fulltime mom.. baikkah jika anak seumur anak saya dibelikan mainan ??
Jawab:
Ya, setiap anak unik dan limited sedition, dia yang unggul dari berjuta2 sperma ayah hehhe. Program kan aktivitas-aktivitas yangvmenunjang perkembangan fisik, Bahasa, kemandirian, sosial-emosional. Karena usia begini anak-anak seperti spons, menyerap apapun yang dia lihat, dengarkan dan perhatikan. Mainan gak papa bunda, tapi mainan yang mendidik dan sebisa mungkin kita temani mereka bermain. Membacakan kisah-kisah, karena selain main anak juga senang didongengkan/ceritakan.
Saya beri contoh bunda,
Misal untuk perkembangan fisik/motoric kasar: menendang dan melempar bola kearah depan, untuk sosial emosional, perkmebangannya dapat menunjukkan rasa sedih, marah saat mainannya diambil jadi ajarkan aktivitas tentang feeling, kalau Bahasa bagaimana merespon pertanyaan, jadi sambal main kita ajukan tanya.

‌👉Pertanyaan bunda Purnama:
Bagaiman cara memahami fitrah yg dibwa oleh anak sejak lahir?
Jawab:
Dengan memahami fitrah anak, pahami keunikan mereka. anak diciptakan Allah dalam keadaan suci, orangtua yg berperan kedepannya mau jadikan anaknya bagaimana.

‌👉Pertanyaan bunda Nhia:
Bagaimana caranya saya menahan emosi dan amarahku menghadapi anak-anakku disaat saya menemani belajar tapi mereka malas menulis atau ogah-ogahanan kerjaain PRnya dan saat dimana saya minta ke anak-anak untuk mandi dan masuk rumah klo sudah sore, biasanya klo sudah begitu emosi naik tingkat tinggi dan biasanya saya marah-marah..
Jawab:
Sisi baiknya bunda Nhia, bunda sudah kenali saat-saat/kondisi bunda bisa emosi/marah. Maka ketika kejadian itu terjadi, bunda banyak-banyak istighfar dan tahan kata-kata bunda. Jangan sampai keluar kata-kata yang negatif. Kata adalah doa, apalagi dari mulut ibu. Mengenai pertanyaan bunda, sharing ya, baiknya ada jadwal. Jadi anak-anak sudah tau jam segitu waktu belajar. Jadi sebelumnya biarkan mereka main, dan waktu belajar pun jangan terlalu tegang seperti disekolahan. Kasihan mereka sudah sekolah seharian, pulang belajar lagi. Banyak mendengar, atau mungkin bunda ganti pola belajar, mungkin yang selama ini yang kita lakukan bukan yang anak maukan. Kenali gaya belajar mereka, karena setiap anak unik. Dan jadilah ibu tega. Kata bu Septi jangan selalu ikutkan mereka, kita sebagai bunda harus tegas. Namun sebelumnya sudah disampaikan, jadi kalau melanggar ya harus melakukan kesepakatan diawal.

‌👉Pertanyaan bunda Ricca dan bunda Kio, Takalar:
Mohon dijelaskan mengenai macam2 fitrah anak secara detail.. fitrah ilahiyah seperti apa dan selanjutnya..
Jawab:
Baik bunda Ricca, tentang fitrah anak ini saya peroleh dari kelas Hebat.
1. Fitrah Keimanan
Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.
2. Fitrah Belajar. 
Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
3. Fitrah Bakat. 
Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
4. Fitrah Perkembangan. 
Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.

**)Mohon dicontohkan mendidik anak secara alamiah dlm kehidupan sprti apa
Jawab:
bagi saya bunda, mendidik anak secara alamiah, mendidik mereka bagaimana bersikap, etika/adab-adab, menumbuhkan sikap positif, rasa bertanggung jawab, kemandirian dan disiplin diri. Tentunya sesuai dengan tingkat usia mereka dan yang mereka butuhkan.
Lebih rincinya, karena visi misi kami berkiblat pada agama kami, Islam, dan aturan jelas ada di quran, yang dicontohkan oleh Rasulullah, maka yang kami ajarkan keanak adab-adab sehari hari dulu, bagaimana adab makan, tidur, masuk kamar mandi mendahulukan kaki kiri, naik kendaraan yang biasa kami lakukan. Etika ketika masuk rumah, mengetuk pintu batas sampai 3x saja, ketuk pintu jangan didepan pintu namun agak kesamping, memberi salam, bagaimana etika ketika menuntut ilmu, dimeja makan dan lain-lain, dan sudah pasti kami mengambil teladan rasulullah. demikian bunda sharing saya

***) Apabila dari kemarin kita sudah salah karena terlalu mendominasi, mengintervensi, memaksakan pendidikan anak.. apakah masih bisa diulang dan dimulai dr awal? bagaimana cara memulai nya lagi?
Jawab:
Banyak-banyak istighfar bunda. Akui kesalahan kita pada Sang pemberi amanah. Dan mohon petunjuk agar dimudahkan dalam perbaiki diri. Tazkiyatun Nafs.
Kata bu Ely, dengan memaafkan kesalahan-kesalahan dalam mendidik kita dulu, baik dilakukan orangtua maupun lingkungan, maka disitulah kita mudah melangkah dengan baik. Karena jika pengalaman dulu yang kurang mengenakkan masih tersisa dihati kita, belum dimaafkan, maka sulit bagi kita melakukan perubahan, dan gaya mendidik kita akan tercermin dari masa lalu kita, inner child kita.
Mohon maaf juga kepada anak-anak. Sampaikan dengan jujur, dari hati, kalau dulu bunda salah, sekarang bantu bunda ya, kita perbaiki sama-sama kesalahan yang lalu. Kalau perlu nangis bunda biar plong.

‌👉Pertanyaan bunda Wa Saripah:
Saya memiliki 1 putri 4y6m. Yang ingin saya tanyakan, dalam proses mendorong anak menemukan misi x, bagaimana orang tua bisa mengetahui apa yang disenangi anak dan itu merupakan passionnya?
Kalau saya perhatikan sekarang, dia suka bermain baju-baju dan bercerita. Tetapi, saya belum paham tentang, bagaimana melihat dan mendidiknya sesuai fitrahnya. Mohon pencerahan bunda...
Jawab:
Kalau usia demikian, kenalkan dulu bunda fitrah anak. Dengan Bahasa sesederhana mungkin. Orangtua dapat mengetahui passionnya dengan memberi banyak aktivitas, disitu bunda amati, kecenderungan anak dimana. Kalau masih usia begitu, ga usah langsung dipatok, amati saja bunda. Buat portofolio anak, ini sangat membantu.
Sudah jelas, bahwa tiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Tugas kita hanyalah menemani, memberi semangat, mensupport mereka, menunjukkan hal-hal yang baik, memfasilitasi. Lakukan dengan sabar, rileks, konsisten dan banyak-banyak bersyukur atas apa yang anak kita miliki. Karena tugas kita bukan merubah atau merekayasa, menuntut mereka dengan impian kita, dll. 
Diusia 1 tahun, biarkan dia berimajinasi, membangun imajinasi positif, dengan meberikan kisah-kisah yang baik, gunakan bahasa ibu yg sempurna, banyak bermain di alam terbuka. 
Misal fitrah keimanan, ajarkan bagaimana seorang muslimah harusnya berpakaian, sesuai perintah Allah yang Menciptakan, sambal main-main dengan memakaikan jilbab ke boneka, dan lainnya.

‌👉Pertanyaan bunda Shanti:
Dari uraian materi, saya menyimpulkan bahwa mendidik lah sealamiah mungkin. 
Nah bagaimana dengan anjuran agar orangtua banyak memberi stimulus pada anak terutama dimasa golden age. Stimulus akan membuat terbentuk sambungan sinaps diotaknya dan sel otak berkembang dengan baik.
Memberi stimulus berarti membuat pengkondisian tertentu terhadap anak. Bagaimana dengan hal tersebut? 
Jawab:
Bunda Santi, betul perlu ada stimulan-stimulan. Nah mendidik dengan fitrah sudah jelas, disitu terdapat stimulan yang dibutuhkan setiap anak karena untuk stimulasi otak sederhananya pun yang perlu dilakukan adalah menemani anak melakukan aktivitas, explore alam, tahu kebutuhan anak, kapan belajar, kapan main, kapan istrahat, dll. Sesuaikan visi misi keluarga bunda. 
Dulu saya pun demikian bunda, sibuk dengan stimulant otak dll, namun belajar, baca, belajar ternyata yang anak-anak butuh itu adalah mengenal Allah. Karena kita hidup punya misi, dan suatu saat pasti kembali. Dan saya yakin, jika kita mengikuti jalanNya maka jalan kita akan mudah. Semua dijelaskan dalam peta hidup, Al Quran.
Contoh: dikeluarga kami, untuk menstimulan otak anak, ya dengan menjaga fitrahnya, penuhi hati-hati mereka dengan kecintaan terhadap Allah, rasulullah, dan AL Quran sebagai peta hidup kita. Tidak perlu mengkhususkan. Kita ingin anak-anak distimulasi dengan quran, maka yang dilakukan hanya buka quran, sampaikan larangan, perintah dsb, dengan mengenal fitrah anak kita dapat melakukan dengan cara yang lebih baik, materi sampai, anak-anakpun enjoy melakukannya, sehingga kecintaan terhadap quran pun dalam, tidak sebatas tau namun juga dapat diterapkan dalam kehidupan.

‌👉Pertanyaan bunda Rustina:
Terkait mendidik anak dg Alquran bunda.. kalau di rumah anak dipahamkan tentang larangan dan perintah Allah dalam alquran, misalnya perintah berjilbab untuk wanita khususnya yg telah baligh. Nah, anak saya (4th) sering protes "kok si A gak pake jilbab, trus si B aja gak pake jilbab kok."
Kemudian, ketika bermain dengan teman-teman lingkungan sekitar terbawa pengaruh yang menurut saya mengacaukan apa yg telah keluarga kami ajarkan. Misalnya di rumah tetangga ikut nonton sinetron india, ikut main game d gadget temannya.
Bagaimana cara mengatasi pengaruh negatif lingkungan tersebut bunda?
Jawab:
Lingkungan memang berpengaruh besar ya Bunda, maka disinilah peran keluarga, peran anggota keluarga untuk saling menguatkan. Tanamkan ke merrka nilai-nilai agama kita dengan kisah-kisah teladan pastinya. Jika saya dihadapkan demikian, maka saya bilang, mungkin si A belum tau kalau jilbab itu wajib, Ayo kita doakan, semoga dia dimudahkan menjalankan perintah Allah. Atau sampaikan, dengan kita memakai jilbab berarti kita mensyukuri apa yg telah Allah berikan, sudah dikasih mata, telinga, mulut, kaki, tangan. Kalau masalah di India, gadget, saya juga tegas disini, saya sampaikan kalau dikeluarga kita tidak menonton demikian, karena kurang bermanfaat. Dan menghabiskan waktu. Saya belum ada pengalaman dengan masalah sinetron India, karena anak saya sudah saya tanamkan untuk menonton yg bermanfaat saja. Kalau hanya kisah-kisah hayalan ga perlu ditonton.
Caranya Bunda: beri anak-anak aktivitas, tapi kita dampingi. Hehe kan teladan, mereka dikasih mainan, tapi kita asyik gadgetan.

‌👉pertanyaan tambahan dari bunda Ricca:
Mengenai fitrah keimanan.. Bagaimana menjelaskan ke anak usia 3thn dan 5thn dengan bahasa sederhana mengenai malu terhadap dosa. kalau saya lebih mengarah ke takut terhadap dosa. Kalau nanti banyak dosanya masuk neraka.. salah ga? beda ndak malu terhadap dosa sama takut terhadap dosa?
Jawab:
Kalau pendapat saya Bunda, lebih bagus malu daripada takut. Kalau dikit-dikit dosa, dikit-dikit neraka, serem. Bisa jadi anak malah jauh, karena diluar menawarkan kesenangan, fun. Sampaikan ke mereka, kalau Allah sayang mereka, Allah memberi tubuh yang sempurna Dan berfungsi baik. Maka kita harus bersyukur, terimakasih. Kalau Usia 3thn kasih contoh jika dikasih mainan sama ayah, ade bilang apa. Ajak mereka berpikir. 
Malu jika tidak ucapkan terimakasih/bersyukur sama Allah yang sudah kasih banyak. Bisa dikembangkan bunda.

You May Also Like

0 komentar