Materi 3 Kelas Matrikulasi IIP Batch #3 Sulawesi 2

by - Februari 23, 2017

Kelas Matrikulasi IIP Batch #3 Sulawesi 2

Tema: "Membangun peradaban dari dalam rumah"
Selasa, 07 Februari 2017
Fasilitator : bunda Henny dan bunda Reny



Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya,” tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?

PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
Orang Yang Belum Selesai Dengan Masa Lalunya, Akan Menyisakan Banyak Luka Ketika Mendidik Anaknya Kelak

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
It Takes A Village To RaiseA Child
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
***

Resume Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan 1, Dari bunda Asiyah
Pertanyaan saya bun : Saat ini saya lagi pisahan dengan suami. Suami lagi tugas belajar 2 tahun di LN. Apa tergolong single parents? Selama dia pergi saya sendiri yang mendidik anak-anak.

Bunda asiyah, kalau kondisi demikian belum dianggap single parent, karena komunikasi masih dapat terjalin. Misal, Bunda bisa diskusi dengan suami lewat videocall, Skype, atau chat saja, begitu juga suami dapat ikut mendidik anak2 dengan menyampaikan pesan atau bercerita kepada anak lewat media diatas, dan lainnya. Bunda juga sampaikan ke suami, apa saja yang menjadi kegiatan Bunda dan anak-anak jadi suami bisa melengkapi dengan bertanya tentang apa yg diperoleh atau perasaannya. Intinya komunikasi harus berjalan baik. 

Pertanyaan 2, Dari bunda Khodijah
"Masa lalu akan menyisakan luka dlm mendidik anak"
Banyak belajar ttg ilmu parenting, membuat kita bisa menilai cara orang tua kita mendidik adalah baik, biasa saja atau malah kurang baik. Jika kita sudah memaafkan cara mendidik orang tua kita yang kurang baik terhadap kita, tapi kita yang memaafkan, bukankah tidak berrati mengubah apa yang tidak baik dari ke-2 orang tua kita? Apa lagi, kita masih bisa melihat cara mereka mendidik adik-adik kita masih dengan cara yang sama. Sedangkan menasihati orang tua sangatlah sulit bahkan tidak mungkin rasanya.
Tentu kita ingin mendidik anak kita dengan baik. Lalu bagaimana cara kita mendidik anak sehingga tetap mencintai dan menghormati kakek neneknya yang seperti itu?

Bunda khodijah, saya coba berbagi yaaa..
- Betul, kita sudah memaafkan orangtua tapi tidak merubah sikap mereka. Hal ini karena kita belum menyampaikan kepada mereka tentang hal yang dulu kita rasa.
ketika sudah nikah, saya ga takut lagi menyampaikan ke orangtua baik itu tentang cara mereka mendidik/komunikasi dengan kami anak2nya. Dulu, ketika ingin menyampaikan sesuatu, persiapkan memang diri aga r bicara tetap sopan. Sambil nangis pernah, tapi saya berusaha menyampaikan ke mereka, mereka mau terima/tidak yang penting saya telah menyampaikan,
Sekali lagi, intinya komunikasi, kita kadang berpikir begini begitu, Tapi ketika kita menyampaikan dgn niat baik, karena sayang, yakinlah pesan itu akan sampai ke orangtua kita.
- Sampaikan dengan jujur.
Saya lahir dikeluarga yang ilmu agamanya standar-standar saja, shalat tidak diingatkan selalu, ngaji_dipanggilkan saja guru, ga ada pemantauan dari orangtua.
Maka, saya sampaikan ke anak-anak, kalau ummi dulu harus belajar sendiri, kakek nenek tidak menemani ummi, tapi mungkin juga karena kakek nenek tidak diajarkan demikian oleh orangtuanya, ilmu/hidayah belum sampai ke mereka maka kita doakan mereka agar diberi ampunan Allah karena hal tersebut.
Tambahan :
Sampaikan ke orang tua dengan cara yang santun tanpa sedikit melukai perasaan mereka, tidak ada kesan menggurui. Mungkin bisa dengan mengajak mereka flash back melihat kembali hasil-hasil didikan mereka. Sekali lagi dengan cara yang santun, tiap orang tua beda dan kita yang paling tau bagaimana orang tua kita dan bagaimana cara yang paling pas menyampaikan ke mereka. Dan memang tidak akan mudah tapi semangat dan teruslah berusaha serta barengi dengan do'a.

Pertanyaan 3, dari bunda Nina
Apa kiat khusus lebih menemukan keunikan positif di diri kita?

Melakukan apa yang disuka. mencoba apa saja dan rasakan, amati aktivitas tersebut, yang mana yang membuat bunda enjoy, excellent & earn.

Pertanyaan 4, dari bunda Nina
Apa dan bagaimana tips dan cara efektif untuk berdamai atau memaafkan masa lalu?

Bunda Nina, air tidak pernah kembali ke hulu. Peristiwa pun tidak. Memaafkan hanyalah menutup agar ia tidak diingat kembali. Berbagi ya.., yang saya lakukan adalah,
- Memaafkan yang telah lalu, karena saya pun berharap orang akan mudah memberi maaf jika saya melakukan kesalahan.
- Curhat dan mengadu kepada Allah, Jangan dengan manusia, Tapi dekatkan diri Dengan Allah yang memegang hati setiap manusia. Karena yang bisa menyelesaikan Masa lalu kita adalah kita & Allah saja.
- Banyak-banyak istighfar karena bisa jadi apa yang kita alami adalah akibat perbuatan kita dulu. 
- Ikhlas bunda, menerima dengan lapang dada dan meyakini bahwa apapun yang terjadi di muka bumi ini sudah melalui acc Allah dan apapun itu pasti ada hikmah yang dapat kita petik.

Pertanyaan 5, dari bunda Rustina
Mengenai potensi unik dalam diri, bisa dicontohkan bunda? Karena selama ini saya merasa memiliki kemampuan yang rata-rata di beberapa bidang sehingga kurang yakin bidang mana yang unggul.

Kira-kira bunda merasa berbinar-binar ketika melakukan apa?
Rasa-rasanya meski capek tapi ada satu kepuasan jiwa yang bunda rasakan.

Pertanyaan 6, dari bunda Nhia
Bagaimana cara saya mempunyai potensi unik, sementara di depan anak-anak saya selalu emosi dan marah klo mereka tidak mau mendengar perkataan saya, bahkan mereka selalu melawan apa yang saya katakan..

Bunda Nhia, semangat dan tetap positive thinking.
Untuk menemukan potensi unik kita, silakan amati aktivitas apa saja yg membuat kita Enjoy, Easy dan Excellent...maka silahkan di list kemudian urutkan prioritasnya.
Kalau masalah Marah Bunda, saran saya Bunda kenali saat-saat yang membuat Bunda marah, misal ketika akan datang bulan, atau anak-anak membongkar barang-barang dan sebagainya. Nah ketika hal itu muncul, tarik napas Bunda, istighfar, karena bisa jadi anak-anak ga dengar, Suka bongkar-bongkar adalah sifat kita kecil dulu, atau mereka memang lagi ingin cari perhatian, dan lainnya.
Boleh marah, tapi pakai kalimat produktif, yang tidak membuat anak-anak down.
Pertanyaan 7, dari bunda Risma
Pertanyaan saya :
Bagaimana sebuah keluarga bisa dikatakan sudah berhasil atau tidak dalam membangun peradaban dari dalam rumah?

Bunda Risma, menurut pendapat saya, ketika keluarga itu sudah on track, misal: sesuai dengan visi misi keluarga. Sesuai pencapaian-pencapaian yang disusun keluarga tersebut.

tanggapan dari bunda Risma
Bagaimana cara menyatukan visi & misi dengan suami agar bisa sama-sama mendidik anak?

Bunda Risma, ajak suami bicara dari hati ke hati. Sampaikan kalau ini semua adalah tanggung jawab dia juga dan dia yang akan ditanya Oleh Allah akan hal ini. Ayah itu kepala sekolah, ibu guru. Yang mengenal anak lebih baik pasti orangtuanya, karena sifatnya/gennya pasti dari orangtuanya.
Ikutkan grup parenting, kalau ga mau, share artikel2 mendidik anak, kalau panjang ringkaskan, nanti kalau suami mau lengkap boleh deh dikirimkan full.
Saran: bicara ke suami ga usah panjang-panjang, atur kalimat seefektif mungkin, dan beri suami issue yang menarik perhatiannya.
Bicara diwaktu yang tepat, disaat kondisi lagi nyaman.
Jika suami tipe yang cuek, maka bunda yang berinisiatif buat program mendidik anak, visi misi, nanti Minta suami koreksi/menambahkan saran dan lainnya.

You May Also Like

0 komentar