Materi 1 Adab Menuntut Ilmu Kelas Matrikulasi 3 IIP Sulawesi 2

by - Februari 02, 2017

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL



ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

🌸 ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

🌸 ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

🌸 ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015


Rekap Pertanyaan 
materi ADAB MENUNTUT ILMU (Sulawesi 2)
(dijawab oleh fasilitator Bunda Henny)

1. Sri Wahyuni

🌷pertanyaan : 

Dari point adab terhadap guru (penyampaian ilmu).
Penuntut ilmu hendaknya meminta ijin kepada guru atau sumber ilmu sebelum menyebarkan ilmu. Bagaimana dengan penyampaian dengan lisan tentang ilmu yang qt dapat dari membaca buku atau artikel2x di internet atau dari diskusi dengan pakarnya. Misal tentang kesehatan; qt berkunjung ke keluarga yg sedang sakit, dan memberi saran tentang obat herbal yg sekiranya qt dapat dari membaca buku atau internet atau pernah berdikusi dengan pakar kesehatan. Apakah qt harus menyampaikan siapa pengarang bukunya atau penulis artikelnya atau dr diskusi dgn siapa? Sementara qt sdh tdk ingat dgn penulis atau teman diskusinya.

🌿jawaban :
Bunda Uni, pertanyaan bunda memberi signal kuat betapa pentingnya menuntut ilmu ya, ilmu yang sumbernya jelas dan benar. Serta mengetahui adab2 dalam menyampaikan sesuatu. Jika ingin menshare artikel maka sebaiknya melihat sumbernya, siapa yang menulis, apakah mmg dia ahli dalam bidang tsb, kesuksesan produk herbal tsb, khasiat kandungannya dll, jika memang kita yakin itu baik, dapat membantu maka kita dapat sampaikan, beserta sumber infonya semampu yg Bunda ingat (menghargai ilmu seseorang), sampaikan, agar yang menerima informasi pun yakin bahwa yang kita sampaikan bukan katanya, katanya. InsyaAllah orang pun akan nyaman dengan hal tsb.
Penting bagi kita mengetahui apa yang kita sampaikan/share, sebelumnya cek n ricek dulu prihal kebenarannya.
Fenomena ini dirasakan sekarang, misal dalam agama, begitu banyak yang dapat ilmu dari broadcast, status dll saja. Hanya percaya ustadz ini, atau komunitas ini pdhl sumber ilmu agama (Islam) hanya Al Quran & Hadits.
Sungguh, segala perkataan Kita akan diminta pertanggung jawabannya

Jika kita yang membuat resume/rangkuman dengan bahasa kita sendiri, kita hanya mencantumkan diakhir tulisan kita, bahwa sumber2 inilah yg menjadi inspirasi Bunda u/tulisan yg Bunda buat.
2. Rustina

🌷pertanyaan :

Ketika kita belajar pada seorang guru, terkadang ilmu yang disampaikan guru bertentangan dengan ilmu yang telah kita pahami sebelumnya. misalkan, ilmu yg disampaikan seorang guru bertentangan dengan Al-qur'an. Bagaimana sikap kita terhadap guru tersebut? bagaimana cara mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan ilmu yang disampaikan seorang guru?

🌿jawaban :
Bunda Tina, sayapun pernah bertanya ttg hal ini kepada seorang ustadzah.
Intinya, bertanya/tanggapilah dengan bijak.
- jika memungkinkan bertanya didepan majelis, usahakan pertanyaan kita tdk seperti sedang menyelidiki, menyudutkan, tapi kita bertanya seolah2 kita tdk paham & ingin tau lbh jelas. Hal ini dapat dilakukan jika kekhawatiran, peserta majelis sangat patuh pada perkataan ustadz tanpa perlu dalil yg jelas, nah Kita dapat bertanya ttg dalil yg menjelaskan Hal tsb, baik dari Quran/hadits.
- atau bisa Kita sampaikan ketika selesai majelis, karena mungkin ustadz/guru tersebut khilaf/Lupa.

3. Novi Mas'udah

🌷pertanyaan: 

Bagaimana cara kita menyikapi atau bisa mengambil ilmu dari guru yang kita tahu latar belakang sejarahnya? Sebagai manusia tidak ada yang sempurna pasti ada kekurangan dan kelebihannya, hanya bagaimana cara meminimalisir pandangan kita terhadap guru tersebut yang tampak ada sedikit kekurangan di mata kita agar ilmu yang disampaikan olehnya tidak mengurangi rasa hormat kita terhadap beliau.

🌿jawaban :
Bunda Novi, disini kita harus meluruskan niat ketika belajar. Jika kita mau belajar dengan seseorang yang kita tau latar belakangnya/kelakuannya kurang baik namun memiliki ilmu yang bagus dan kita perlukan, dan ilmu guru tsb diperoleh dari sekolah tinggi/sekolah yg baik, maka ambil saja ilmunya, jangan ikut sikapnya. Kita harus tetap berpikir positif terhadap guru tsb, dan pastinya mendoakan agar kelakuannya sebaik ilmu yang dimiliki kedepannya.

4. Bunda Shafiya

🌷pertanyaan :

Dalam hidup bermasyarakat, orang yg kita temui ada bermacam-macam karakter dan latar belakang pendidikan.
Bagaimana cara kita menghadapi orang/sekumpulan orang yg tdk paham adab berilmu

🌿jawaban :
Bunda Shafiya, cara terbaik yang kita lakukan adalah memberi contoh, menyampaikan, berbagi ilmu dengan bahasa yg baik, tidak menggurui, dan diwaktu yang tepat pastinya. Dan sebaiknya kita sampaikan ke teman2 pentingnya mengedepankan adab dalam kegiatan apapun, tentunya dengan cara penyampaian/pendekataan sesuai karakter orang yg kita hadapi ya Bunda,

5. Linda

🌷pertanyaan :

Apa maksud adab ke-3 thdp guru "penuntut ilmu harus meminta ijin jika ingin menyebarkan ilmu baik secara lisan maupun tulisan"? Bagaimana dgn ilmu yg selama ini kita terima dari jenjang SD sampai kuliah, apakah berarti melanggar adab jika disebarkan tanpa terlebih dahulu meminta ijin? Selama ini sdh jadi kebiasaan umum semua ilmu yg kita terima akan disebarkan terutama secara lisan. Karena kadang sdh tidak ingat pengarangnya.

🌿jawaban : 
Bunda Linda, jawaban sama dgn no. 1 ya.
Saya tambahkan,
Dalam suatu penelitian, kita diharuskan mencantumkan sumber kan, begitu jg adab dalam menyampaikan ilmu. Kita sebaiknya menyebutkan semampu yang kita ingat. Dan perihal melanggar, dulu kan kita belum paham adab2 demikian, InsyaAllah tdk apa2 bunda, kita belajar dari kesalahan kita & kedepannya berusah lbh baik. Menghargai orang lain akan membuat kita pun dihargai orang, InsyaAllah

6. Nur Alfia

🌷Pertanyaan :

Terkait salah satu adab dlm menuntut ilmu terhdp guru.. Point C..Bgmn kalau kita ingin sharing dng orang lain, dalam hal ini suami.. Krn ini kan menyangkut keluarga..
Apakah setiap ingin sharing materi harus selalu izin ke pemberi materi atau bgmn??

🌿jawaban :
Bunda nur, kalau saya tetap saya sampaikan, cukup mengatakan kalau Hal ini diperoleh dari bu septi dikelas Matrikulasi misalnya, atau dari ustadz/ustadzah ini, jadi suami pun bisa tau kalau yang Bunda sampaikan dari sumber yang dapat dipercaya. Untuk Minta ijin ga perlu Bunda, karena ketika tulisan telah dipublis atau perkataan dalam majelis, itu sudah boleh dishare krn sudah milik publik, Oleh karena itu kita harus menerima info tersebut dengan jelas tdk setengah2 dan menyampaikan sumbernya darimana.

7. Wa Saripah

🌷Pertanyaan :

ilmu itu untuk diamalkan, meskipun sedikit. Bagaimana kiat2 untuk mengamalkan ilmu, ketika kita termasuk orang yang suka membaca. Biasax, saya sudah tau sesuatu, tp pada prakteknya, apalagi berhubungan dengan anak, saya masih butuh bxak belajar. Apa ada kiat2 untuk mempercepat proses seperti ini? Agar ilmu bisa maksimal dipraktekkan?

🌿jawaban : 
Bunda saripah, Betul ilmu itu untuk diamalkan. Ilmu dulu Baru diamalkan, agar yang kita lakukan tidak sia2/kurang tepat. Pahala dunia akhirat kita peroleh.
Lakukan yang Bunda bisa/ mampu dulu, yang bisa Bunda terapkan dikeluarga Bunda. Tidak perlu melihat orang yang sudah melangkah jauh, sabar Bunda, karena butuh waktu untuk melakukannya, sekarang yang kita butuhkan, melakukan langkah AWAL dan kuatkan azzam & niat kita untuk menjadi insan yg lbh baik. Bismillah.

Hati2 dengan tsunami informasi/ilmu, lihat kondisi kita, keluarga, pilih apa yg keluarga dan dirikita perlu benahi. Jangan Latah. Karena keluarga/diri kita berbeda dengan keluarga/org lain.
8. Toety Suryani

🌷pertanyaan:

Bagaimana kita sebagai ibu dari anak-anak yang sedang bertumbuh saat ini dengan fasilitas media disekeliling mereka menyikapi fenomena di zaman fitnah ini?. bagaimana adab yang seharusnya dalam mengcounter informasi (hoax) tersebut. Apakah cukup dengan alasan menjaga adab dalam menerima informasi/ilmu tersebut kita melakukan pembiaran terhadap apapun yang beredar apabila terjadi di depan mata kita. Apakah perlu ada reaksi atas beredarnya informasi-informasi yang menyesatkan tersebut tanpa melanggar adab yang dimaksud.

🌿jawaban :
Bunda tuti, pertanyaan yang bagus. 
- untuk anak2 Bunda, bekali mereka dengan ilmu, khususnya ilmu agama, sampaikan kepada mereka dengan jujur, akan bahaya, Dan dampaknya. Adab2 ketika menerima informasi. Tentunya Dengan bahasa yg mereka mudah pahami. Perbanyak aktivitas shg tdk melulu ke gadget.
- Jika digroup ada yang menyebar info hoax, kita wajib sampaikan itu hoax (Tapi Kita pun harus cek dulu ttg hoax tersebut). Dan sampaikan jika ingin menyebarkan sesuatu harus dicek dulu informasinya, karena mungkin teman2 kita belum paham ttg adab berbagi informasi

9. Nhia

🌷pertanyaan:

Biasanya kan klo ada d FB tuh berita2,
cerita pengalaman jg doa2 tuk ini n itu n biasa sya langsung bagikan.apa kah hal itu benar atw gmn ya???

🌿jawaban :
Bunda Nhia, usahakan lihat sumber tulisan/doa tersebut dari Mana? Yg share siapa? Karena tulisan yang baik adalah yang mencantumkan sumber sehingga dia dapat menuliskan Hal tersebut. seperti doa, cek sesuaikah dengan Arab Dan artinya? Jangan sampai Kita menyebar Hal yang Tidak tepat. Hal ini akan memberi nilai positif bagi diri Bunda, orang2 akan mengenal jika share dari Bunda Nhia pasti bagus krn disertai sumber, Dan pastinya bukan hoax

10. Nunung Hasanah

🌷pertanyaan :

Apa ada faktor lain penyebab susahnya ilmu masuk??
Apakah ada metode untuk mudah menyerap ilmu?

🌿jawaban :
Bunda nunung, ilmu itu adalah cahaya. Maka hanya hati2 yang bersih yang bisa dimasuki ilmu yang baik. Olehkarena itu, luruskan niat ketika hendak belajar. Niatkan yang baik2, hindari Riya dll.
Dan ikuti adab2nya, seperti menghargai guru/yang menyampaikan materi, mendengarkan ketika guru berbicara (tidak ikut berbicara dengan peserta lain) walau ilmu kita sudah lebih tinggi tapi bisa jadi kita dapat ilmu dari beliau.
Dan senjata utama adalah berdoa, Minta kepada Allah agar kita diberi pemahaman, kemudahan dalam belajar sehingga dapat mengamalkan dan berbagi.

Dosa dan maksiat yg kita lakukan jg bisa menjadi penyebab hati kita susah ditembus cahaya ilmu. Maka selalu bermuhasabah diri atas segala khilaf dan dosa setiap harinya semoga bisa membantu membeningkan hati agar mudah ditembus cahaya ilmu 
( tambahan dari Bunda Nurlaila)

You May Also Like

0 komentar